Selasa, 18 Juni 2013

FILSAFAT PRA-SOCRATES DAN KELALAHIRAN MAZHAB MILESIA

PENDAHULUAN
1.   Latar Belakang
Banyak orang berangapan bahwa filsafat sukar dan susah untuk dipelajari. Pelajaran tentang Filsafat banyak kita jumpai di berbagai Universitas. Yang materinya susah untuk di baca dan sukar untuk di mengerti, namun susah dan sulitnya itu masih dapat kita dipelajari, banyak faidah mempelajari filsafat diantaranya : agar terlatih berfikir serius, agar mampu memepelajari filsafat agar mungkin menjadi filosof. Filsafat berasal dari seorang ilmuwan yang terkenal yaitu Thales, ia mengatakan bahwa “segala sesuatu itu terbuat dari air”. Thales adalah sosok legendaris pada masa hidupnya. Thales sangat terkenal karena bisa meramalkan terjadinya gerhana yang menurut para Astronom memang terjadi, bukti lain, menunjukan bahwa aktivitas Thales paling tepat jika di tempatkan pada periode ini.[1]
       Banyak pemikiran-pemikiran dari ilmuwan yang pemikirannya masih digunakan sampai sekarang. Misalnya menurut Aristoteles, Thales berpendapat bahwa “air adalah subtansi dasar yang membentuk segala hal lainnya”, dan ia mengatakan bahwa “bumi terapung di atas air. Berdasarkan penuturan Aristoteles, Thales juga mengatakan bahwa “magnet memiliki jiwa karena bisa mengerakan besi”. Dan masih banyak lagi argumen-argumen untuk membuktikan bahwa segala sesuatu terbuat dari air, misalnya Anaximander yang memiliki argumen bahwa untuk membuktikan subtansi asali bukan air atau unsur lain.[2]

2.   Rumusan masalah
1.   Bagaimana cara mempelajari Filsafat ?
2.   Bagaimana  sejarah mazhab Milesian pada masa Yunani
                                                                                                         
PEMBAHASAN
A.    Cara Mempelajari Filsafat
Filsafat adalah buah pikiran Filosof dan pertama yang perlu kita ketahui bahwa isi Filsafat sangat amat luas, fisafat yaitu segala yang ada dan mungkin ada. Dalam pengertian lain Filsafat adalah cabang pengetahuan yang tertua.
Ada tiga macam cara mempelajari  Filsafat :
Metode Sistematis berarti  pelajar menghadapi karya Filsafat, misalnya mula-mula pelajar menghadapi teori pengetahuan yang terdiri dari atas beberapa cabang ilmu Filsafat.
Adapun Metode Historis digunakan bila para pelajar mepelajari Filsafat dengan cara mengikuti sejarahnya, jadi sejarah pemikiran.
Adapula Metode Kritis digunakan oleh mereka dan mempelajari Filsafat tingkat Intensif, dan setidaknya pelajar telah memiliki banyak pengetahuan tentang Filsafat.[3]
Sebelum mempelajari  lebih dalam tentang sejarah Filsafat, adakalanya kita perlu mengetahui  para Filosofi terdahulu.
THALES
Thales (624-546SM), orang Miletus itu, mendapat gelar bapak Filsafat karena dialah yang mula-mula berfisafat, gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang amat mendasar.[4]
ANAXIMANDER
Anaximander mencoba menjelaskan bahwa Suntansi pertama itu bersifat kekal dan ada dengan sendirinya. Anaximander mengatakan itu udara. Udara merupakan segala sumber kehidupan demikian alasannya.[5]
SOCRATES
Ajaranya bahwa semua kebenaran itu relative telah mengoyahkan teori-teori sains yang mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan, inilah sebabnya Socrates harus bangkit.[6]
PLATO
Plato merupakan salah seorang murid dan sahabat Socrates, ia memperkuat pendapat gurunya itu, menurut Plato, kebenaran umum (defenisi) itu bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif. Seperti pada Socrates, Pengertian umun itu telah tersedia di “sana”  di alam idea, defenisi pada Socrates dapat saja diartikan tidak memiliki realitas.[7]
ARISTOTELES
Aristoteles, murid dan juga teman serta guru Plato, adalah mendaapatkan pendidikan yang baik sebelum menjadi Filosof, keluarganya  adalah orang-orang yang tertarik dalam kebaikan. Sifat berfikir sainstifik ini besar pengaruhnya pada diri Aristoteles. Oeleh karena itu, Filsafat Aristoteles berbeda dengan warnanya dengan Filsafat Plato : Sisitematis, amat dipengaruhi oleh metode Empiris.[8]

B.    Sejarah Mazhab  Melisian
Pada perjalanan sejarah filsafat, pertama kali disebutkan bahwa filsafat bermula dari tales, yang mengatakan bahwa segala sesuatu terbuat dari air. Pernyataan demikian itu tidak merangsang minat para pemula yang sedang berupaya meskipun kurang bersungguh-sungguh untuk menghargai filsafat, akan tetapi ada banyak alasan untuk memberikan penghargaan bagi Thales, meski mungkin lebih sebagai ilmuan dari pada sebagai filsuf. Thales adalah warga asli militus, di asia kecil,yang merupakan sebuah kota niaga yang maju.”Di Miletus, pada mulanya rakyat menang dan membunuh para istri dan anak-anak kaum bangsawan, kemudian kaum bangsawan unggul dan membakar lawan mereka hidup-hidup, membumi hanguskan tempat-tempat terbuka di tempat itu dengan oncor yang menyala.”keadaan serupa berlangsung di sebagian kota besar yang ada di yunani,di masa hidup Thales.[9]
Setiap kota-kota, Miletus mengalami pertumbuhan ekonomi dan politik yang amat pesat pada abad ke-7 dan ke-6 SM. Pada mulanya kekuasaan dipegang golongan bangsawan, yang kemudian berangsur-angsur digeser oleh suatu plutokrasi kaum pedagang kerajaan Lydia terletak disebelah timur pesisir kota Yunani. Namun tetap membina hubungan dengan kota-kota itu sampai jatuhnya Nineveh (612 SM) , Namun Lydia malah leluasa untuk mengalihkan perhatian keBarat, Namun Miletus dapat menjaga hubungan baik, terutama dengan Croseus ,raja Lydia terakhir. Juga berlangsung hubungan penting dengan raja Mesir yang bergantung pada tentara bayaran yunani. Pemukiman pertama Yunani di Mesir berupa benteng yang dialami oleh Serdadu Garnisun dari Miletus. Disinilah Jereniah dan bnayak pengungsi Yahudi lainnya mencari suaka karena serbuan Nebuchadrezzar, Mesir memberikan banyak pengaruh pada Yunani, tidak demikian orang Yahudi. Perihal masa hidup Thales, seperti kita saksikan bukti terkuat adalah dia terkenal karena bisa meramalkan terjadinya gerhana menurut para astronom memang terjadi pada tahun 585 SM. Miletus adalah sekutu Lydia dan Lydia memilki hubungan cultural dengan Babylonia, sementara tentara Babylonia sudah menemukan bahwa gerhana berlangsung dalam siklus kira-kira 19 tahun. Mereka dapat meramalkan terjadinya gerhana bulan dengan betul-betul cepat. Dan begitu yang bisa mereka ketahui paling-paling hanyalah pemikiran kasar bahwa pada tanggal sekian atau sekian akan terjadi gerhana dan mungkin inilah yang paling-paling diketahui Thales.[10]
Thales konon pernah melawan ke Mesir dan kemudian menmperkenalkan ilmu geometri keYunani. Yang diketahui orang Mesir mengenai geometri terutama hanyalah hitungan-hitungan, bahwa Thales mampu melakukan pembuktian secara deduktif. Ia telah menemukan bagaimana cara menghitung jarak kedua kapal dilaut berdasarkan observasi yang dilakukan didua tempat didarat. Dan bagaimana memperkirakan tinggi sebuah piramid itu. Banyak rumus geometeri lainnya yang berasal dari Thales,namun rumus-rumus itu agaknya masih keliru. Menurut Aristoteles ,Thales berpendapat bahwa air adalah subtansi dasar yang membentuk segala hal, pernyataan bahwa segala sesuatu terbuat dari air dianggap sebagai hipotesis ilmiah dan sama sekali bukan pendapat yang tolol. Dua tahun yang lalu, sudah diterima pandangan bahwa segala sesuatu terbuat dari hydrogen yang dua pengertiannya adalah air. Bangsa yunani memang kurang cermat dalam membuat hipotesis namun Madzab Milesia setidaknya telah siap melakukan pengujian secara impiris.[11]
Ada banyak kisah legenda tentang Thales namun tiada yang lebih diketahui kecuali sedikit fakta yang telah dikemukakan. Ada beberapa kisah yang diceritakan oleh Aristoteles dalam Politics, “Ia dicemooh karena miskin, yang dianggap menunjukan bahwa  filsafat tak berguna, meski saat itu masih musim dingin ia tahu bahwa akan terjadi panen buah zaitun yang berlimpah ditahun depan. Demikianlah dengan uangnya yang tak seberapa itu ia membayar uang muka untuk menyewa semua alat pengolaan zaitun di Chios. Ketika musim panen tiba dan banyak membutuhkan semua alat itu segera, ia melepaskan dengan harga sesuka hati,dan menghasilkan banyak uang. Jadi ia membuktikan pada dunia bahwa para filsuf bisa kaya dengan gampang jika mereka mau.[12]
Anaximander, filsuf kedua dari Madzab Milesia, yang jauh lebih menarik ketimbang Thales . Masa hidupnya tidak pasti, namun usianya enam puluh empat pada tahun 546 SM, dan ada asalan mengganggap informasi itu mendekati kebenaran. Ia mengatakan bahwa segalanya berasal dari satu subtansi asali, namun subtansi itu bukan air, seperti yang diyakini thales. Sebab Anaximander beranggapan bahwa didunia kita hanyalah salah satu dari banyak dunia subtansi asali itu diubah menjadi berbagai subtansi yang kita kenal dengan subtansi-subtansi itu saling ditransformasikan menjadi subtansi yang satu atau yang lain, ia mengutarakan pernyataan penting dan perlu disimak. “Untuk menjadi sesuatu yang darinya segala sesuatu lainnya meningkatkan diri ,subtansi-subtansi itu harus musnah sekali lagi, bagaimana sudah ditakdirkan, sehingga bisa menyempurnakan dan memasukan satu sama lain berdasarkan ketidak-adilan, sesuai dengan pengaturan waktu.[13]
Gagasan tentang keadilan, baik sifatnya komsis maupun manusiawi, memainkan peranan dalam agama dan filsafat yunani yang tidak sepenuhnya mudah dipahami oleh orang modern, bahkan istilah keadilan yang kita pakai nyaris tak mampu mengungkapkan maksudnya, tetapi sukar untuk menemukan kata lainnya yang lebih memadai. Demikian pemikiran yang diutarakan anaximander : mestinya ada api, tanah, air dalam takaran tertentu di dunia, namun masing-masing unsur itu (yang dikonsepkan oleh dewa) yang terus menerus berupaya memperbesar kerajaannya sendiri tetapi ada semacam keniscayaan atau hukum alam yang senantiasa mengembalikan ke seimbangan; jikalau telah ada api maka umpannya tentu ada abu, yang tak lain adalah tanah. Konsepsi tentang keadilan yakni tidak dilampauinya batas-batas tertentu yang abadi adalah salah satu keyakinan orang yunani yang paling mendalam. Dewa-dewa pun taat kepada keadilan sama persis sebagaimana  manusia, namun kekuatan agung itu pada dirinya sendiri tidak bersifat personal, dan bukan pula tuhan yang maha kuasa.[14]
Anaximander memiliki argumen untuk membuktikan bahwa subtansi asali itu bukan air atau unsur manapun yang dikenal. Jika salah satu suntansi itu bersifas asali maka suntansi itu mengalahkan yang lain. Menurut Aristoteles, Anaxsimander mengatakan bahwa unsu-unsur yang dikenal itu saling beroposisi. Udara bersifat dingin, air basah, dan api panas “dan kerana itu, jika salah satu subtansi itu asali subtansi lain tentu sudah penuh saat ini”. Subtansi asali, dengan demikian harus bersifat netral ditengah perselisihan komsis ini. Anaximander memiliki keingitahuan ilmiah yang besar. Ia konon adaalah orang pertama yang membuat peta. ia berpendapat bahwa bumi itu berbentuk seperti selinder, biasa kita dengar bahwa matahari sama besarnya dengan bumi, atau dua puluh tujuh kali atau dua puluh delapan kali lipat besarnya, selain Anaximander yang berwatak ilmiah dan rasionalistik. Anaximenes, tokoh terakhir dari tri tunggal Milesian, sebenarnya kurang begitu menarik dibandingkan Anaximander, namun ia membuat beberapa kemajuan penting. Masa hidupnya sangat tidak pasti ia jelas muncul setelah Anaximander dan ia jelas sudah dewasa sebelum tahun 494 SM. Menurutnya subtansi yang paling mendasar adalah udara ;api adalah udara yang encer; jika dipadatkan, pertama-tama udara akan menjadi air, dan jika dipadatkan lagi akan menjadi tanah, dan akhirnya menjadi batu. Arti penting teori ini adalah membuat perbedaan berbagai kuantitas suntansi, yang sepenuhnya tergantung pada tingkat kepadatannya. Dan ia pun berpendpat bahwa bumi berbentuk seperti meja bundar, bahwa udara melingkupi segala sesuatu : “bagimana jiwa kita yang tak lain adalah udara, persatukan kita bersama, demikian pula nafas dan udara melingkupi seluruh dunia”. Dikesankan disini bahwa duniapun bernafas.Anaximenes lebih dihormati dari pada anaximander, meskipun hampir seluruh dunia moderen memberikan penilaian yang sebaliknya. Kaum pythagoras sudah berpendapat bahwa bumi berbentuk seperti bola,namun kaum atomis tetap menganut pandangan anaximenes bahwa bumi berbentuk seperti piringan.[15]
Mazhab Milesian penting bukan karena apa yang di capainya,namun karena apa yang di upayakanya. Kemunculannya didorong antara pemikiran Yunani dengan Babilonia dan Mesir. Miletus adalah kota niaga yang makmur, dimana prasangka tahayul dan primitif diperlunak karena pergaulanya dengan berbagai bangsa.[16]

PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada dasarnya sejarah filsafat berawal dari Thales,ia merupakan seorang filosof yang amat melegenda,berbagai pemikiran-pemikiran telah ia kemukakan,walaupun filsafat Thales memang masih mentah, namun demikian mampu merangsang pemikiran dan obserfasi.Thales memiliki semangat yang tinggi sehingga ia mampu membuktikan bahwa dirinya seorang tokoh filsafat.
Bukan hanya Thales, masih banyak berbagai tokoh-tokoh lainya yang merupakan filosof Tersohor,walaupun sosoknya telah tiada namun pemikiranya sampai sekarang masih ada dan dizaman sekarang pemikiranya amat sangat berguna,buktinya banyak para peneliti yang menggunakan teorinya sebagai penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
v  Bernard,Russel,2007,Sejarah Filsafat Barat,Yogyakarta,Pustaka Pelajar.
v  Tafsir,Ahmad,2009,Filsafat Umum,bandung,Remaja Rosdakarya.



[1] Bernard Russel,sejarah filsafat Barat,Pustaka pelajar.Yogyakarta,cet ke-3,2007.hal.31
[2] Ibid.hal.31
[3] Prof.DR.Ahmad Tafsir,Filsafat Umum,PT.Remaja Rosdakarya.Bandung,2009,hal.20-21.
[4] Ibid.hal.48.
[5] Ibid.hal.48.
[6] Ibid.hal.53.
[7] Ibid.hal.57.
[8] Prof.DR.Ahmad Tafsir,Filsafat Umum,PT.Remaja Rosdakarya.Bandung,2009,hal.59-60.
[9] Bernard Russel,sejarah filsafat Barat,Pustaka pelajar.Yogyakarta,cet ke-3,2007.hal.31.
[10] Bernard Russel,sejarah filsafat Barat,Pustaka pelajar.Yogyakarta,cet ke-3,2007.hal.32.
[11] Ibid.hal.33.
[12] Ibid.hal.34.
[13] Bernard Russel,sejarah filsafat Barat,Pustaka pelajar.Yogyakarta,cet ke-3,2007.hal.34.
[14] Ibid.hal.35.
[15] Bernard Russel,sejarah filsafat Barat,Pustaka pelajar.Yogyakarta,cet ke-3,2007.hal.35-36.
[16] Ibid.hal.36.

Sabtu, 01 Juni 2013

CONTEXTUAL TEACHING LEARNING (MODEL PEMBELAJARAN CTL)

A.      Latar Belakang

Salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan produktif dan bermakna bagi siswa adalah strategi pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selanjutnya disebut CTL. Strategi CTL fokus pada siswa sebagai pembelajar yang aktif, dan memberikan rentang yang luas tentang peluang-peluang belajar bagi mereka yang menggunakan kemampuan-kemampuan akademik mereka untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kompleks.
Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara materi yang mereka pelajari dengan pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Pemahaman konsep akademik yang dimiliki siswa hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak, belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan siswa. Pembelajaran secara konvensional yang diterima siswa hanyalah penonjolan tingkat hafalan dari sekian macam topik, tetapi belum diikuti dengan pengertian dan pemahaman yang mendalam yang bisa diterapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupannya.
Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal, tetapi merekonstruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. Pendekatan ini selaras dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi yang diberlakukan saat ini dan secara operasional tertuang pada KTSP. Kehadiran kurikulum berbasis kompetensi juga dilandasi oleh pemikiran bahwa berbagai kompetensi akan terbangun secara mantap dan maksimal apabila pembelajaran dilakukan secara kontekstual.


PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Menurut Nur Hadi CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Menurut Jonhson CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka. 
Jadi pengertian CTL dari pendapat para tokoh-tokoh diatas dapat kita simpulkan bahwa CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi kehidupan sehari-hari dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

B.       TujuanPembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atu ketrampilan yang secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan kepermasalahan lainya. 
1.    Model pembelajaran ini bertujuan agar dalam belajar itu tidak hanya sekedar menghafal tetapi perlu dengan adanya pemahaman
2.    Model pembelajaran ini menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa. 
3.    Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk melatih siswa agar dapat berfikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain 
4.    Model pembelajaran CTL ini bertujun agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna
5.    Model pembelajaran model CTL ini bertujuan untuk mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks jehidupan sehari-hari 
6.    Tujuan pembelajaran model CTL ini bertujuan agar siswa secara indinidu dapat menemukan dan mentrasfer informasi-informasi komplek dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri.

C.      Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a. Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah.
b. Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna.
c. Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
d. Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antar teman.
e. Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam.
f. Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama.
g. Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan.
Secara lebih sederhana karakteristik pembelajaran kontekstual dapat dinyatakan menggunakan sepuluh kata kunci yaitu: kerja sama, saling menunjang, menyenangkan, belajar dengan gairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis dan guru kreatif.

D.      ImplementasiPembelajaran Kontekstual di Kelas
Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama. Kelas dikatakan menerapkan CTL jika menerapkan ke tujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. Untuk lebih jelasnya uraian setiap komponen utama CTL dan penerapannya dalam pembelajaran adalah sebagai berikut sebagai berikut:
a.   Kontruktivisme (Constructivism)
Komponen ini merupakan landasan berfikir pendekatan CTL. Pembelajaran konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Prinsip konstruktivisme yang harus dimiliki guru adalah sebagai berikut.
1)   Proses pembelajaran lebih utama dari pada hasil pembelajaran.
2)   Informasi bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa lebih penting daripada informasi verbalistis.
3)   Siswa mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
4)   Siswa diberikan kebebasan untuk menerapkan strateginya sendiri dalam belajar.
5)   Pengetahuan siswa tumbuh dan berkembang melalui pengalaman sendiri.
6)   Pengalaman siswa akan berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan pengalaman baru.
7)   pengalaman siswa bisa dibangun secara asimilasi (pengetahuan baru dibangun dari pengetahuan yang sudah ada) maupun akomodasi (struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menyesuaikan hadirnya pengalaman baru).
b.  Bertanya (Questioning)
Komponen ini merupakan strategi pembelajaran CTL. Bertanya dalam pembelajaran CTL dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berfikir siswa. Prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran berkaitan dengan komponen bertanya sebagai berikut.
1)   Penggalian informasi lebih efektif apabila dilakukan melalui bertanya.
2)   Konfirmasi terhadap apa yang sudah diketahui siswa lebih efektif melalui tanya jawab.
3)   Dalam rangka penambahan atau pemantapan pemahaman lebih efektif dilakukan lewat diskusi baik kelompok maupun kelas.
4)   Bagi guru, bertanya kepada siswa bisa mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
5)   Dalam pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna untuk: menggali informasi, mengecek pemahaman siswa, membangkitkan respon siswa, mengetahui kadar keingintahuan siswa, mengetahui hal-hal yang diketahui siswa, memfokuskan perhatian siswa sesuai yang dikehendaki guru, membangkitkan lebih banyak pertanyaan bagi diri siswa, dan menyegarkan pengetahuan siswa.
c.   Menemukan (Inquiry)
Komponen menemukan merupakan kegiatan inti CTL. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya. Prinsip yang bisa dipegang guru ketika menerapkan komponen inquiry dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1)   Pengetahuan dan keterampilan akan lebih lama diingat apabila siswa menemukan sendiri.         
2)   Informasi yang diperoleh siswa akan lebih mantap apabila diikuti dengan bukti-bukti atau data yang ditemukan sendiri oleh siswa.
3)   Siklus inquiry adalah observasi, bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data, dan penyimpulan.
4)   Langkah-langkah kegiatan inquiry: merumuskan masalah; mengamati atau melakukan observasi; menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lain; mengkomunikasikan atau menyajikan hasilnya pada pihak lain (pembaca, teman sekelas, guru, audiens yang lain).
d.  Masyarakat belajar (learning community)
Komponen ini menyarankan bahwa hasil belajar sebaiknya diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antar teman, antarkelompok, dan antara yang tahu kepada yang tidak tahu, baik di dalam maupun di luar kelas. Prinsip-prinsip yang bisa diperhatikan guru ketika menerapkan pembelajaran yang berkonsentrasi pada komponen learning community adalah sebagai berikut.
1)   Pada dasarnya hasil belajar diperoleh dari kerja sama atau sharing dengan pihak lain.
2)   Sharing terjadi apabila ada pihak yang saling memberi dan saling menerima informasi.
3)   Sharing terjadi apabila ada komunikasi dua atau multiarah.
4)   Masyarakat belajar terjadi apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya sadar bahwa pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dimilikinya bermanfaat bagi yang lain.
5)   Siswa yang terlibat dalam masyarakat belajar pada dasarnya bisa menjadi sumber belajar.
e.   Pemodelan (modelling)
Komponen pendekatan CTL ini menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru siswa. Model yang dimaksud bisa berupa pemberian contoh, misalnya cara mengoperasikan sesuatu, menunjukkan hasil karya, mempertontonkan suatu penampilan. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih cepat dipahami siswa dari pada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukkan modelnya atau contohnya. Prinsip-prinsip komponen modelling yang bisa diperhatikan guru ketika melaksanakan pembelajaran adalah sebagai berikut.
1)   Pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan mantap apabila ada model atau contoh yang bisa ditiru.
2)   Model atau contoh bisa diperoleh langsung dari yang berkompeten atau dari ahlinya.
3)   Model atau contoh bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, contoh hasil karya, atau model penampilan.
f.    Refleksi (reflection)
Komponen yang merupakan bagian terpenting dari pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. Prinsip-prinsip dasar yang perlu diperhatikan guru dalam rangka penerapan komponen refleksi adalah sebagai berikut.
1)   Perenungan atas sesuatu pengetahuan yang baru diperoleh merupakan pengayaan atas pengetahuan sebelumnya.
2)   Perenungan merupakan respons atas kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diperolehnya.
3)   Perenungan bisa berupa menyampaikan penilaian atas pengetahuan yang baru diterima, membuat catatan singkat, diskusi dengan teman sejawat, atau unjuk kerja.
g.  Penilaian autentik (authentic assessment)
Komponen yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa. Gambaran perkembangan pengalaman siswa ini perlu diketahui guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar siswa. Prinsip dasar yang perlu menjadi perhatian guru ketika menerapkan komponen penilaian autentik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut.
1)   Penilaian autentik bukan menghakimi siswa, tetapi untuk mengetahui perkembangan pengalaman belajar siswa.
2)   Penilaian dilakukan secara komprehensif dan seimbang antara penilaian proses dan hasil.
3)   Guru menjadi penilai yang konstruktif (constructive evaluators) yang dapat merefleksikan bagaimana siswa belajar, bagaimana siswa menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan berbagai konteks, dan bagaimana perkembangan belajar siswa dalam berbagai konteks belajar.
4)   Penilaian autentik memberikan kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan penilaian diri (self-assessment) dan penilaian sesama (peer assessment).

E.       Strategi Pembelajaran CTL 
Beberapa strategi pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru secara konstektual antara lain: 
1)    Pembelajaran berbasis masalah
Dengan memunculkan problem yang dihadapi bersama,siswa ditantang untuk berfikir kritis untuk memecahkan. 
2)    Menggunakan konteks yang beragam
Dalam CTL guru membermaknakan pusparagam konteks sehingga makna yang diperoleh siswa menjadi berkualitas.
3)    Mempertimbangkan kebhinekaan siswa
Guru mengayomi individu dan menyakini bahwa perbedaan individual dan social seyogianya  dibermaknakan menjadi mesin penggerak untuk belajar  saling menghormati dan toleransi untuk mewujudkan ketrampilan interpersonal.
4)    Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri
Pendidikan formal merupakan kawah candradimuka bagi siswa untuk menguasai cara belajar untuk belajar mandiri dikemudian hari. 
5)    Belajar melalui kolaborasi
Dalam setiap kolaborasi selalu ada siswa yang menonjol dibandingkan dengan koleganya dan sisiwa ini dapat dijadikan sebagai fasilitator dalam kelompoknya.
6)    Menggunakan penelitian autentik
Penilaian autentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung secara terpadu dan konstektual dan memberi kesempatan pada siswa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
7)    Mengejar standar tinggi
Setiap seyogyanya menentukan kompetensi kelulusan dari waktu kewaktu terus ditingkatkan  dan setiap sekolah hendaknya melakukan Benchmarking dengan melukan study banding keberbagai sekolah dan luar negeri.
Berdasarkan Center for Occupational Research and Development (CORD) Penerapan strategi pembelajaran konstektual digambarkan sebagai berikut:
          1)    Relating
Belajar dikatakan dengan konteks dengan pengalaman nyata, konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru  untuk membantu peserta didik agar yang dipelajarinya bermakna.
          2)    Experiencing
Belajar adalah kegiatan “mengalami “peserta didik diproses secara aktif dengan hal yang dipelajarinya dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang dikaji,berusaha menemukan dan menciptakan hal yang baru dari apa yang dipelajarinya.
          3)    Applying
Belajar menekankan pada proses mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki dengan dalam konteks dan pemanfaatanya.
          4)    Cooperative
Belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui kegiatan kelompok, komunikasi interpersonal atau hubunngan intersubjektif.
          5)    Trasfering
Belajar menenkankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.

F.       Kelemahan dan Kelebihan Model Pembelajran CTL
Kelebihan CTL :
1.    Belajar menjadi lebih bermakana dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
2.    Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumpuhkan penguatan konsep kepada siswa karena pembelajaran CTL menganut aliran kontruktinisme: dimana seorang siswa diharapkan belajar melalui “ mengalami” bukan “ menghafal”.
Kelemahan CTL :
1.    Guru lebih intensif dalam membimbing karena dalam CTL guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi
2.    Tugas guru mengelola sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa.

G.      Aplikasi Model Pembelajaran CTL di Kelas pada Materi Cahaya
1.      Konsep Esensial Sifat-sifat Cahaya
Pengertian Cahaya
Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang dapat merambat dalam vakum (ruang hampa udara). Cepat rambat cahaya dalam ruang hampa udara adalah 300 juta meter/detik atau 3 x 108 meter/detik. Pada spektrum gelombang elektromagnetik, cahaya mempunyai panjang gelombang antara 4000 Angstrom – 7600 Angstrom.
Sumber Cahaya
Benda-benda yang dapat memancarkan cahaya sendiri disebut sumber cahaya.
Sumber cahaya yang kita lihat sehari-hari dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
·         Sumber cahaya alami, misalnya matahari dan bintang-bintang di angkasa.
·         Sumber cahaya buatan, sumber cahaya yang diciptakan manusia, misalnya : lampu pijar atau lampu tabung (tube lamp)
Sifat-sifat Cahaya
Cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya mempunyai sifat merambat lurus, menembus benda bening, dapat dipantulkan dan dibiaskan. Cahaya dapat menerobos beberapa bahan, seperti air atau kaca. Benda-benda seperti itu disebut benda transparan atau benda bening dan kita melihat melalui benda-benda tersebut. Bahan-bahan lain, sperti logam dan kertas, cahaya tidak dapat menerobosnya. Bahan-bahan tersebut dinamakan opaque atau benda buram. Contohnya planet, bulan, batu. Bayang-bayang akan muncul di belakang benda buram, ketika sinar cahaya mengenainya. Bayang-bayang terbentuk karena cahaya merambat melalui garis lurus dan tidak bisa membelok di sekitar sudut-sudut benda.
Bayang-bayang merupakan daerah gelap di belakang benda-benda tak tembus cahaya. Bayang-bayang yang terbentuk dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu bayang-bayang gelap (umbra) dan bayang-bayang kabur (penumbra).
Pemantulan
Ketika cahaya mengenai suatu permukaan atau sebuah benda mereka terpantul kembali. Hal ini disebut pemantulan. Pemantulan cahaya ada 2 jenis yaitu pemantulan baur (pemantulan difus) dan pemantulan teratur. Pemantulan baur terjadi apabila cahayamengenai permukaan yang kasar atau tidak rata. Pada pemantulan ini, sinar pantul arahnya ridak beraturan. Sementara itu, pemantulan teratur terjadi jika cahaya mengenai permukaan yang rata, licin, dan mengkilap. Permukaan yang memiliki sifat seperti ini misalnya cermin. Pada pemantulan ini, sinar pantul memiliki arah yang teratur.
Pembiasan Cahaya
Kecepatan rambat cahaya berbeda pada bahan atau medium yang berbeda. Cepat rambat cahaya berkurang pada medium kaca atau air dibanding kecepatannya di udara. Ketika kecepatan rambat cahaya berkurang, arah rambatnya pun berubah sedikit. Hal ini disebut sebagai pembiasan dan itu membuat berkas cahaya seolah-olah membelok pada bidang dimana 2 medium bertemu.
2.      Fakta, Konsep, dan Prinsip
Konsep Cahaya :
Konsep Pemantulan Cahaya
Beberapa fakta yang mendukung diantaranya adalah :
·      Kita dapat melihat benda karena adanya cahaya yang dipantulkan benda dan diterima mata kita.
·      Ketika siang hari di dalam ruangan rumah tetap terang karena adanya cahaya matahari yang dipantulkan.
·      Kaca mobil memantulkan cahaya matahari dan mengenai mata kita.
·      Ketika bercermin, pantulan cahaya dari cermin menuju mata kita.
Konsep Pembiasan Cahaya
Beberapa fakta yang mendukung diantaranya adalah :
·      Pensil tampak patah jika dimasukkan ke dalam gelas berisi air.
·      Kolam renang terkesan dangkal.
·      Ikan terlihat lebih besar pada akuarium yang berbentuk bulat.
·      Lensa cembung atau bola kaca dapat mengumpulkan sinar matahari.
Konsep Cahaya Merambat Lurus
Beberapa fakta yang mendukung diantaranya :
·      Berkas cahaya yang masuk rumah dari sela-sela atap rumah.
·      Kita hanya dapat melihat benda-benda yang berada di depan kita.
·      Cahaya memasuki lubang kamera yang kecil dan membentuk bayangan.
Konsep Energi Cahaya
Beberapa fakta yang mendukung diantaranya :
·      Tumbuhan mampu hidup jika mendapat cahaya matahari yang cukup.
·      Cahaya matahari membantu mengeringkan baju yang basah.
·      Cahaya matahari ditangkap dengan panel dan diubah menjadi energi listrik.
Prinsip Cahaya :
Prinsip Pemantulan
Pemantulan terjadi dengan prinsip-prinsip tertentu. Sinar datang, garis normal, dan sinar pantul berada dalam satu bidang datar. Sudut datang samadengan sudut pantul. Fakta dalam kehisupan menunjukkan jika berkas cahaya dijatuhkan dari satu sisi, pemantulannya akan jatuh pada sisi yang lain.
Prinsip Pembiasan
Pembiasan terjadi dengan prinsip-prinsip tertentu. Sinar datng, garis normal dan sinar bias berada pada satu bidang datar. Pembiasan dari mediumkurang rapat menuju medium lebih rapat akan mendekati garis normal dan sebaliknya dari rapat menuju kurang rapat akan menjauhi garis normal. Jika kita melihat ikan dalam akuarium berbentuk bulat, ikan akan terlihat lebih besar.

PENUTUP
 Kesimpulan
Metode pembelajaran CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi kehidupan sehari-hari dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama. Kelas dikatakan menerapkan CTL jika menerapkan ke tujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya, tujuh komponen tersebut adalah :
1.    Kontruktivisme (Contructivism)
2.    Bertanya (Questioning)
3.    Menemukan (Inquiry)
4.    Masyarakat Belajar (Learning Community)
5.    Pemodelan (Modelling)
6.    Refleksi (Reflection)
7.    Penilaian Autentik (Authentic Assesment)

PUSTAKA
 Suwarna, dkk. 2005. Pengajaran Mikro. Yogyakarta : Tiara Wacana.